Anak kok Bekerja?

Halo, Sobat Gawe! Republik Indonesia memperingati dan menetapkan Hari Anak Nasional jatuh pada tanggal 23 Juli. Kira-kira, kenapa ya minke kali ini mengangkat topik Hari Anak di blog gawe?

Hal ini tidak lepas dari keprihatinan kita semua bahwa ternyata di Indonesia, masih banyak anak di bawah umur yang bekerja lho, Sobat Gawe. Catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyebutkan bahwa sebanyak 4.7 juta anak umur 10-17 tahun bekerja secara aktif untuk menanggung beban ekonomi di Indonesia. Hal ini tentu menjadi masalah karena anak-anak pada waktu tersebut seharusnya mengemban pendidikan yang layak dan menikmati masa ‘anak-anak’ mereka, bukan malah berjibaku di medan pekerjaan yang tentu saja bebannya jauh lebih berat jika dirasakan oleh anak. Jangankan anak, minke sendiri saja bisa stres kalau sudah pusing mikirin pekerjaan (eh malah curhat). Belum lagi masalah yang diterima di tempat kerja seperti eksploitasi anak, bekerja yang tidak sesuai dengan jam kerja, risiko bahaya di tempat kerja, maupun pelecehan seksual yang masih sering diterima oleh mereka.

Sebenarnya, anak-anak yang bekerja ini dikelompokkan menjadi dua, yakni anak yang bekerja serta pekerja anak. Istilah pertama pada intinya mengacu pada anak yang membantu pekerjaan orang tuanya dengan berbagai tujuan, tanpa mengganggu hak-hak mereka sebagai anak seperti waktu sekolah. Sedangkan pekerja anak lebih mengarah kepada anak yang benar-benar bekerja untuk menanggung beban keluarga sehingga hak-haknya sebagai anak tidak dapat mereka peroleh.

Child Labour atau istilah untuk pekerja anak sebenarnya sudah diatur oleh undang-undang. Menurut Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan definisi tenaga kerja anak adalah mereka yang berusia kurang dari 18 tahun. Akan tetapi, dalam Sakernas Agustus 2013 dari BPS batasan umur terendah adalah 15 tahun. Hal ini sesuai Konvensi ILO Nomor 138 ‘concerning minimum age for admission to employment’ yang menyatakan bahwa usia minimum untuk diperbolehkan bekerja adalah 15 tahun. Hal ini jelas bertentangan dengan fakta di awal yang mengatakan bahwa masih ada anak usia 10 tahun yang sudah menjadi pekerja anak.

Rata-rata, pekerja anak ini muncul karena berbagai macam faktor, antara lain yaitu faktor kemiskinan dan ekonomi, faktor budaya—salah satunya adalah masih terdapat budaya pernikahan usia dini—faktor pendidikan orang tua yang rendah, faktor migrasi (urbanisasi), dan lemahnya pengawasan institusi kepada pekerja anak itu sendiri. Tentu hal ini menjadi keprihatinan kita semua ya, Sobat Gawe. Karena biar bagaimanapun, anak adalah aset bangsa dan belum saatnya bagi mereka untuk mengemban beban semacam ini.

Minke jadi turut prihatin, Sobat Gawe. Masih banyak anak di Indonesia yang belum terpenuhi haknya, sementara ia harus menghadapi kerasnya dunia kerja yang mungkin saja dapat membahayakan fisik dan mentalnya. Selain itu, anak adalah fase krusial dalam perkembangan manusia. Jika fase ini dilewati tanpa bekal yang baik, bayangkan kelak apa yang ia alami saat sudah dewasa. Hmmm, semoga masalah ini bisa diselesaikan, terutama oleh beberapa lembaga pengawas pekerja anak agar jumlah pekerja anak di Indonesia tidak semakin bertambah dan anak-anak di Indonesia dapat menikmati masa kekanak-kanakannya dengan bahagia. Selamat Hari Anak Nasional!

Bagikan artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial