Tetap Profesional Saat Ber-Medsos

Media sosial saat ini menjadi hal yang melekat erat di kehidupan kita. Laporan Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World yang diterbitkan tanggal 30 Januari 2018 menyebutkan bahwa 49% penduduk Indonesia menggunakan media sosial. Dengan pengguna media sosial sebanyak itu, tidak jarang muncul berbagai masalah dalam media sosial. Yang paling sering terjadi yaitu penyebaran berita palsu (hoax), ujaran kebencian, SARA, pornografi dan masih banyak lagi. Hal ini menuntut kita untuk lebih berhati-hati dalam bersosial media, terutama kaitannya dengan profesionalisme terhadap pekerjaan masing-masing. Eh, Minke, apa hubungannya?

Baik, Minke kasih contoh, ya. Jadi beberapa waktu yang lalu, sempat viral seorang oknum perawat yang dituntut berhenti bekerja karena mengunggah video tiktok, dimana ia sengaja memainkan wajah salah satu bayi yang sedang dirawat. Lebih lama lagi, ada kasus oknum karyawan salah satu provider kartu seluler ternama yang dipecat karena mengunggah konten yang dianggap provokatif. Dan masih banyak lagi contoh ‘kelalaian’ dalam ber-medsos yang berdampak pada profesionalitas kerja yang akhirnya berujung pada pemecatan.

Profesionalisme dalam media sosial sebenarnya bukan hal yang menjadi tuntutan karena media sosial itu sendiri merupakan urusan pribadi masing-masing individu. Tetapi, lain ceritanya jika dalam ber-medsos, Sobat Gawe—entah sengaja atau tidak—membawa nama perusahaan, profesi atau menunjukkan hal yang terkait dengan profesionalitas kerja, pada konten yang kamu bagikan, terutama jika isinya merupakan hal yang negatif. Hal ini yang dapat membahayakan karir kita ke depannya.

Banyak sekali warganet yang memanfaatkan media sosial sebagai ajang untuk pamer atau curhat, atau sekedar membagikan konten yang tidak penting yang sebenarnya tujuan mereka hanya mendapat perhatian banyak dari warganet lain. Tetapi, mereka seringkali melupakan etika-etika dalam bermedia sosial, terutama bagi karyawan. Misalnya, curhat di medsos setelah dimarahi atasan, membagi konten foto/video terkait hal yang seharusnya menjadi rahasia perusahaan atau mengandung pornografi atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pantas untuk profesinya, terutama menyinggung SARA karena hal ini sangat sensitif. Karena sifat media sosial yang sangat cepat dalam membagikan informasi (entah benar atau tidak), ‘cuitan’ kamu justru akan menggali lubang kubur kamu sendiri dan mau tidak mau karir akan terancam.

Nah, ada beberapa hal yang perlu diingat saat bermedia sosial agar profesionalitas kamu tetap terjaga. Yang paling penting adalah, jangan sekali-kali mengumbar masalah perusahaan di media sosial. Sekecil apapun masalah perusahaan yang kamu hadapi, keep saja tanpa harus membeberkannya di akun medsos-mu. Meski kamu yakin atasanmu tidak memakai media sosial, tapi informasi sensitif seperti ini akan cepat tersebar dan tidak menutup kemungkinan namamu bisa menjadi daftar pencarian orang kemudian hari (hehehe). Hal ini tentu saja mengurangi profesionalitas kerjamu dan otomatis menambah poin negatif pada penilaian atasan kepadamu sebagai karyawan. Masalah perusahaan dalam konteks ini tidak berupa hal negatif yang sedang dialami perusahaan, namun berbagai macam rahasia perusahaan, rencana perusahaan ke depan, produk yang akan dikeluarkan perusahaan, serta bermacam topik lain terkait perusahaan, sebaiknya tidak perlu di-share di akun media sosialmu.

Tidak kalah penting lagi adalah sebisa mungkin hindari untuk membagikan konten yang cukup sensitif seperti konten yang mengandung SARA atau unsur pornografi. Mungkin posisimu sekarang ini bukan posisi strategis di perusahaan, namun jika akun media sosialmu saja berisi hal-hal demikian, bagaimana nanti penilaian para klien, rekan kerja atau atasan terhadap profesionalitasmu? Belum kalau kamu terbukti seringkali menyebar informasi palsu atau suka mengomentari hal-hal dengan kalimat yang mengandung ujaran kebencian atau bahasa anak sekarang nyinyir. Waduh, bisa-bisa tanpa sadar, kamu sudah diberi cap negatif oleh kolega kerja hanya dari media sosial. Ngeri sekali bukan?

Lalu, bagaimana kalau tanpa sengaja kamu ‘terjebak’ oleh masalah dalam dunia media sosial? Langsung laporkan hal tersebut kepada humas atau bagian tim media sosial di kantormu. Sebelumnya pastikan kamu melakukan klarifikasi terhadap masalah tersebut. Dengan melaporkan ke perusahaan, masalahmu akan tertangani dengan baik. Minke yakin kalau memang masalah tersebut bukan hal yang disengaja, pihak perusahaan akan segera menanganinya dengan profesional pula.

Bagikan artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial